Aku, Pejuang Garis Satu



"Nambah anak lagi sekalian capek," "Nambah anak lagi kan anak pertama udah gede," Masih musimkah berbasa-basi untuk menggoda pasutri menambah momongan lagi?


Beberapa hari lalu aku melihat postingan di FB seorang penulis novel asal Jogja, Fissilmi Hamida, yang biasa dipanggil mbak Mimi tentang kisahnya yang pernah deg-degan saat merasa mual karena saat ini belum berkeinginan menambah momongan lagi. Lalu aku secara nggak sengaja membaca artikel tentang artis Zaskia Mecca, istri dari sutradara Hanung Bramantyo yang merasa 'kesal' karena mengandung anak ke-5 tanpa direncanakan karena mereka akan berencana naik haji tahun ini. Membaca dari dua tulisan di atas, aku jadi merasa tidak sendiri dan merasa ada 'teman' seperjuangan untuk belum mau hamil lagi, haha. Ya aku memang tidak sendiri, beberapa teman-temanku juga sama, padahal usia anak mereka jauh di atas anakku. 

Masalah Kesehatan Mental


Hal yang membuatku dan suami untuk mengurungkan niat menambah momongan lagi di luar finansial yang harus sangat cukup dan memadai untuk masa depan anak adalah masalah psikis dan mental kami berdua, terutama aku sebagai seorang ibu. Walau kami menerapkan prinsip adil gender dalam mendidik anak, tapi tetap saja ada stressnya juga. Ditambah Anjani saat ini masih belum terlalu mandiri, tidur masih minta dikeloni dan dipeluk dan masih suka pup di celana haha. 

Aku juga membaca salah satu artikel bahwa anak kedua rentan orangtua makin stress. Alih-alih sudah 'belajar' dari anak pertama dan merasa siap tapi ternyata dalam praksisnya pun tidak semudah itu. Padahal menambah anak sama dengan menambah tanggung jawab. Belum lagi dinamika mendidik anak pertama dan kedua. Apakah sudah siap mendengar tangisan mereka saat 'bertengkar'? Siapkah berlaku adil pada anak-anak? Siapkah untuk tetap menjadikan anak pertama sebagai anak yang disayang dan tidak harus mengalah pada adiknya? Aku rasa sih malah menambah panjang daftar kelas parenting yang mengikuti kelas parenting untuk satu anak saja sudah pusing apalagi anak dua, tiga, empat.

Trauma Masa Kecil


Jujur, kalau aku masih sangat trauma dengan masa kecilku yang dididik dengan teriakan dan bentakan. Istilahnya, inner childku masih belum hilang sepenuhnya. Aku anak sulung dari tiga bersaudara, tentu ada perasaan cemburu dengan dua adikku (sibling rivalry), merasa tidak didengarkan, merasa tidak mempunyai teman di rumah. Maka aku saat ini masih berusaha berdamai dengan inner childku. Aku berusaha untuk tidak mengulangi 'kesalahan' orangtuaku dulu kepada anakku saat ini. Aku berusaha untuk menjadi teman ceritanya dan mengurangi bentakan dan teriakan, walau itu butuh latihan berkali-kali. Beruntung aku punya suami yang super sabar, yang sering mengingatkan agar tidak ketus saat berbicara dengan anak. Meski kelepasan juga apalagi kalau badan sudah capek, hahah sampai anakku ikut kritik, ih mama marah-marah terus. Acapkali aku ingin konsultasi pada psikiater tentang masalah ini. Aku nggak tau trauma pada masa kecilku ini parah atau enggak, tapi saat ini aku berusaha memaafkan kedua orangtua, aku hanya berusaha untuk memperbaikinya di masa sekarang dan itu butuh effort yang lebih!

Masih Merasa Banyak 'Dosa'


Bila kebanyakan orangtua, apalagi orangtuaku, masih suka menganggap bahwa anaklah yang punya banyak dosa dan bukan orangtua, maka aku sangat menyadari bahwa aku juga punya banyak kesalahan pada anak. Mulai dari depresiku saat pasca melahirkan (postpartum depression) yang membuatnya tidak minum ASI selama dua hari, masih suka membentak anak, pokoknya banyak deh yang membuatku masih selalu merasa kurang dalam mendidik anak sedangkan anak cepat sekali besarnya. Maka dari itu aku belum mau menambah momongan lagi karena mengatasi satu anak saja butuh belajar banyak. Kalau nambah lagi ya jadi nambah banyak PRnya, ibarat satu nomer aja belum selesai, hahaha....

Punya anak atau enggak memang itu hak prerogatif Allah. Sama saat menjadi pejuang garis dua, kami pun hanya berusaha agar saat ini semua berjalan sesuai rencana, yaitu belum mau menambah momongan. Bedakan ya belum mau dan tidak mau hehe sungguh jauh perbedaannya bukan? Toh kalau memang berjalan keluar dari rencana barangkali itu yang terbaik dari Allah :)

Apapun itu semua perbuatan harus ada tanggungjawab, sama seperti anak. Memiliki anak harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab penuh untuk bekal akhirat nanti. Selamat berjuang para pejuang garis satu maupun dua!

Jember, Mei 2020


4 komentar:

  1. halo kak Anggi, salam kenal. Aku Nabila, kita tergabung dalam 1 komunitas yang sama di 1minggu 1cerita.

    Apapun itu kak, takdir Allah selalu tepat. Penting usaha jangan kendor karena rejeki bakal datang di waktu yang tidak kita nantikan. Semangat terus kak Anggi, semangat menginspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali kak, takdir Allah selalu tepat. Terimakasih :)

      Hapus
  2. Saya baca nih tulisan Fisilmi di KBM, meski saya di block ama dia, karena pernah komen kontra dengan tulisannya hahahaha.

    Menurut saya, sebenarnya semua orang berhak memutuskan apa yang mau mereka lakukan, termasuk punya anak berapa, atau sama sekali nggak punya anak.

    Banyak kok sekarang yang kayak gitu.

    Itu hak asasi manusia sih menurut saya.
    Tiap orang pastinya punya alasannya sendiri-sendiri untuk itu.

    Saya sendiri dulu pengen punya anak 3 orang malah, atau 4 deh, tapi pengennya kembar biar nggak kebanyakan hamil dna melahirkan, i hate melahirkan, itu menakutkan, even sesar.

    Tapi sekarang, jangankan 3, punya anak 2 aja udah sering bikin saya mengucap menyesal punya anak huhuhu.

    Sedihnya lagi, saat stres, saya sering banget mengatakan hal itu di depan anak-anak hiks.
    Makanya saya selalu cari cara biar sembuh, apapun saya lakukan, demi anak-anak yang sudah terlanjur diberikan amanah ke saya.

    Lalu di ujung waktu, kadang saya berpikir, saya boleh saja berencana, tapi memang keputusan terakhir itu ada di yang Maha Pemberi.

    Dia yang Maha Tahu apa yang bagus dan tidak buat kita, dengan cara itulah saya sedikit demi sedikit bisa berdamai dengan keadaan, belajar menerima anak-anak yang dulunya saya nantikan, sekarang saya sesali karena pasangan tidak setia pada komitmen awal dalam menjadi ortu.

    Karenanya, saya setuju banget dengan usaha pejuang garis satu.
    Tak masalah punya 1 anak aja, daripada anak banyak, lalu kemudian kita sesali dan bikin masa kecil anak penuh luka.

    Semangat yaaa :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sampai diblock ya saya jarang komen juga di statusnya sih hihi

      iya betul mbak, hak semua orang dan kesiapan orang berbeda-beda.

      Semangat juga mba :)

      Hapus