Aktualisasi Diri Wanita Rumah Tangga


Menjadi seorang ibu dan wanita rumah tangga tidak lantas membuat kita berpikiran 'mandeg', moms. Kalau menurutku seorang perempuan harus terus menimba ilmu tanpa memandang status atau pendidikan, guna meningkatkan value dan menjadi ibu bahagia. Syukur-syukur kalau bisa bermanfaat bagi orang sekitar. 

Maslow’s Hierarchy of Needs


Agar mencapai kebahagiaan itu, ibu rumah tangga harus memenuhi kebutuhan mereka. Kebutuhan itu sesuai dengan piramida kebutuhan (hierarchy of needs) yakni kebutuhan dasar seperti makan dan rasa aman, kebutuhan psikologis seperti hubungan sosial dan self-esteem, dan aktualisasi diri.



Hierarki Kebutuhan Maslow merupakan teori psikologi diperkenalkan oleh Abraham Maslow, dalam makalahnya "A Theory of Human Motivation" dalam Pshycological Review pada tahun 1943. Teori ini beranggapan bahwa untuk memotivasi diri atau seseorang, kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi.

Dapat dilihat dalam kebutuhan manusia dapat dikategorikan menjadi 5 level: physiological needs (kebutuhan fisiologi), safety needs (kebutuhan akan keamanan), social needs (kebutuhan akan memiliki dan kasih sayang), esteem needs (kebutuhan akan penghargaan), dan self-actualization needs (kebutuhan akan aktualisasi diri). 

Physiological Needs (Kebutuhan Fisiologi)

Level pertama dari hierarki kebutuhan manusia adalah physiological needs atau kebutuhan fisiologi kita. Level ini terdiri dari kebutuhan – kebutuhan fisik yang paling mendasar dan adalah hal – hal yang kita perlu untuk tetap hidup. Ini termasuk makanan, minuman, tempat berteduh, tidur, dan oksigen (sandang, pangan, papan). Sebelum menangani kebutuhan lain, kebutuhan fisiologis harus dipenuhi terlebih dahulu. Seorang ibu rumah tangga, apakah kebutuhan fisiologis sudah cukup terpenuhi atau belum. Terkadang seorang ibu harus bekerja di luar demi pemenuhan kebutuhan fisiologisnya khususnya untuk sandang dan pangan.

Safety Needs (Kebutuhan Keamanan)

Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi secukupnya, maka level kedua adalah kebutuhan akan kemananan. Kebutuhan akan rasa aman ini diantaranya adalah fisik (kriminalitas, perang, bencana) dan psikis (kebebasan dari rasa takut, stress, direndahkan, diejek, dll). Bila kita tidak merasa aman, maka kita tidak akan memikirkan kebutuhan sosial, maupun kebutuhan akan dihargai orang lain. Seorang ibu juga butuh akan rasa aman fisik dan sekaligus mental. Seorang ibu yang bebas dari perasaan stress dan tidak bahagia juga dibutuhkan untuk menjaga stabilitas keluarga karena ibu adalah kunci dari kehangatan keluarga.

Social Needs (Kebutuhan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang)

Kebutuhan selanjutnya adalah untuk merasakan kasih sayang sekaligus perasaan memiliki dan dimiliki. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi dorongan untuk dibutuhkan oleh orang lain agar ia dianggap sebagai warga komunitas sosialnya. Bentuk akan pemenuhan kebutuhan ini seperti bersahabat, keinginan memiliki pasangan dan keturunan, kebutuhan untuk dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta. 

Self Esteem Needs (Kebutuhan Akan Penghargaan)

Hirearki selanjutnya manusia akan bebas untuk mengejar kebutuhan egonya atas keinginan untuk berprestasi dan memiliki prestise. Self Esteem dibedakan menjadi dua jenis : (1) self respect yaitu adalah pemuasan menghargai diri sendiri dan (2) respect from other yaitu mencakup kebutuhan prestise, pengakuan dari orang lain, apresiasi, dan kehormatan. 

Self Actualization Needs (Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri)

Kebutuhan ini mencakup pemenuhan diri (self-fulfillment), realisasi seluruh potensi, dan kebutuhan untuk menjadi kreatif. Mereka yang telah mencapai level aktualisasi diri menjadi lebih manusiawi, lebih asli dalam mengekspresikan diri, tidak terpengaruh oleh budaya. Agak berbeda dengan perkembangan kebutuhan lain, bila kebutuhan penghargaan ini terpenuhi, tidak secara otomatis kebutuhan meningkat ke aktualisasi diri. Maslow menemukan bahwa mereka yang lepas dari kebutuhan penghargaan dan mencapai kebutuhan aktualisasi diri adalah yang memberikan penghargaan tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan, dan nilai-nilai sejenis yang oleh Maslow disebut sebagai B-values.

Pentingnya Aktualisasi Diri bagi Wanita Rumah Tangga


Dalam sebuah artikel berita online, Republika, Psikolog Anak dan Keluarga, Ratih Ibrahim mengatakan aktualisasi diperlukan seseorang untuk meningkatkan kualitas diri. Aktualisasi diri terjadi saat seseorang mampu memanfaatkan potensi diri secara optimal dengan tetap menyadari keterbatasanya. Apabila kebutuhan ini sudah terpenuhi maka seseorang akan merasakan kebahagiaan. Ibu dan wanita rumah tangga yang dapat mengaktulisasi dirinya akan memberikan dampak lebih positif untuk keluarga. Aktualisasi membuat bahagia dan bahagia membuat seseorang jadi bersinar. Ibu dan wanita rumah tangga yang bahagia akan membuat keluarga bahagia.

Cara Aktualisasi Diri Wanita Rumah Tangga

Bentuk aktualisasi diri bagi wanita rumah tangga hadir dalam beragam bentuk. Mulai dari terjun ke lingkungan sosial, aktif di komunitas, dan kegiatan keagamaan. Para wanita rumah tangga juga dapat memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya untuk berbisnis sebagai bentuk aktualisasi diri.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan ibu dan wanita rumah tangga untuk bisa mencapai kebahagiaan dengan aktualisasi diri :

Pertama, wanita rumah tangga harus memiliki sikap yang terbuka karena peluang ada di mana saja. Sikap tertutup hanya akan menutup diri dari kemampuan diri yang ujung-ujungnya akan menutup peluang.

Kedua, wanita rumah tangga juga harus berani mencoba hal baru. Rasa percaya diri harus ditampilkan dan mengurung rasa gengsi.

Ketiga, terus gali potensi diri karena ada banyak kemampuan yang terpendam yang harus ditemukan dalam sosok wanita rumah tangga.

Keempat, wanita rumah tangga juga disarankan untuk selalu menyediakan waktu untuk diri sendiri atau me time agar terhindar dari stres. Me time itu memanfaatkan waktu luang untuk membuat energi kembali naik. Ada banyak bentuk me time, tujuan penting adalah menjadi bahagia.

Kelima, wanita rumah tangga juga harus mengetahui batasan dan tetap mencintai diri sendiri. Dengan mengetahui batasan diri, setiap ibu dan wanita rumah tangga dapat mengontrol diri agar tidak terlalu memaksakan diri yang dapat berujung pada stres.

Perjalanan Aktualisasi Diriku

Aku dan Status Ibu Rumah Tangga

Dari seorang gadis lalu tiba-tiba menjadi seorang istri kemudian menjadi seorang ibu merupakan perjalanan panjang bagiku. Proses perubahan yang begitu cepat membuatku pada akhirnya harus adaptasi dengan keadaan. Perubahan yang cepat tidak sejalan dengan lambatnya aku beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. Puncaknya adalah saat aku menjadi seorang ibu, di mana aku harus beradaptasi lagi dengan hal baru. Pola tidur berantakan, harus menyusui bayi tengah malam dan begadang, belajar mengartikan tangisan bayi, memakai daster setiap hari, tidak pernah menyisir rambut bahkan lupa dengan skincare dan make up, padahal aku, skincare dan make up adalah hal yang tak terpisahkan. 

Awal saat menjadi seorang ibu, aku juga diselimuti rasa kesepian. Suami cukup banyak membantuku di rumah, tapi tetap saja aku merasa sendiri dan sangat butuh support dari teman-temanku yang lain. Hal ini membawaku pada rasa depresi pasca melahirkan (yang sudah aku ceritakan di tulisan Berdamai dengan Postpartum).

Aku dan Menulis

Aku suka menulis dari masa sekolah, kemudian kuliahpun aku mengisi blog ini (beberapa postingan sudah aku hapus) tapi sejak menjadi ibu, intensitas menulisku berkurang. Aku hanya menulis seadanya di platform blog lain. Oh iya, dulu aku punya beberapa blog selain blogpsot, ada wordpress dan blog domain. Setelah blogpsot aku membuat blog di wordpress, namun aku tidak terlalu suka karena banyak orang menggunakan blogspot dan susah untuk mengomentari postingan blogku. Akhirnya aku kembali lagi ke blogspot. Iya, sepenting itu blog bagiku. Ada yang meninggalkan komentar saja sudah membuat hatiku senang. 

Aku dan Komunitas

Aku baru tau kalau blog juga ada komunitasnya dan aku mengetahuinya dari blog challenge di Blogger Perempuan kemudian ada komunitas lain yang aku memang suka yaitu 1 Minggu 1 Cerita. Sebenarnya aku mendaftar di komunitas blogger lain tapi platformnya terlalu ribet, ada yang harus melalui chatt admin terlebih dahulu.

Aku juga pernah ikut komunitas Ibu Profesional di awal 2019 lalu untuk mencari 'teman seperjuangan' dan aku sendiri juga ingin menjadi pribadi yang positif serta lebih baik. Tapi aku tidak melanjutkan di komunitas itu lagi karena aku masih berpindah domisili serta adanya aturan baru yang pada akhirnya aku tidak lagi mengikutinya. 

Tidak lagi mengikuti kelas kenaikan level di Ibu Profesional tidak lantas aku lupa dengan ilmu yang diberikan. Aku tetap menggali potensi diri dan mengasah kemampuanku. Aku mencoba berbagai hal baru di luar kebiasaanku menulis seperti membuat prakarya menjahit flanel. Aku memang memiliki bakat banyak ide (ah terlalu pede untuk mengatakan ini), aku mengetahuinya dari tes minat dan bakat. Tapi jeleknya, aku menjadi susah fokus dan mendalami satu hal. 

Dunia menjahit flanel sedikit membuatku bosan. Berarti itu bukan passionku. Katanya sih, kalau passion meskipun bosan tapi tetap membuatnya kembali, eeaa. Aku kembali menulis lagi dan aku ikut komunitas membaca "Gerakan One Week One Book" melalui platform instagram dengan tujuan ikut menegakkan literasi. 

Memang, membangun beberapa hal baik harus sedikit dipaksa. Aku baru menemukan 'jati diri' dan mengenal kemampuanku bahkan saat di usia anakku 3 tahun. Aku melewati waktu bertahun-tahun untuk menjadi ibu yang percaya diri serta menerima kelebihan dan kekurangan diri. Aku merasa lebih bahagia saat ini. Menulis merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri. Menulis selalu membuatku kembali.


Semoga para wanita di luar sana, khususnya wanita rumah tangga dan ibu dapat selalu menemukan potensi dirinya agar tercipta bahagia.

Jember, Juni 2020

Sumber Bacaan :
https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/17/10/07/ox6ii7328-pentingnya-ibu-mengaktualisasi-diri
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20181222003121-284-355678/kebahagiaan-hakiki-ibu-rumah-tangga-bernama-aktualisasi-diri

4 komentar:

  1. Yaampun piramida Maslow!!! Mengingatkanku jaman kuliah dulu saat belajar Psikologi Industri. Hehehe. Aku slalu lihat teman-teman yang berubah drastis ketika jadi ibu. Ada yang terlihat fine-fine saja malah tampak seperti masih gadis meski sudah beranak satu. Tapi kebanyakan tuh pada stress berat gitu ketika jadi mama. Hal ini juga yang jadi salah satu faktor ku belum mau memiliki seorang anak. Tanggung jawabnya besar banget dan akan 180 drajat menjalani kehidupan yang berbeda. Hmmm. Selain karena wabah Corona juga sih...

    BTW template blognya lucu banget kak!!! Sukaak. Nemu di mana sih template lucu begini? Aku selalu pake template bawaan dari blogspotnya aja hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ya begitu dunia mommy, banyak jungkir baliknya.

      Template bisa ke Gooyabii Templates mbak, banyak templates unyu di situ... :)

      Hapus
  2. Haii Mba Anggi, salam kenal ya sebelumnya (:

    Baca paragraf terakhir entah kenapa aku mendadak mellow, karena persis dengan apa yang aku rasakan sendiri (': Sejak memutuskan untuk menjadi IRT, aku janji dengan diri sendiri akan terus produktif dan nggak boleh gini-gini aja. Kenyataannya, awal-awal menjalani transisi menjadi seorang ibu itu sulit sekali. Aku sampai lupa melakukan apa yang biasanya aku lakukan. Sampai akhirnya menjelang anakku usia 3 tahun dan dia sudah mulai sekolah, aku baru menemukan ritme untuk melakukan kembali apa yang aku lakukan sebelumnya. Makanya kenapa aku sangat relate sekali dengan cerita Mba Anggi ini.

    Aku percaya sih menjadi ibu bukan berarti membatasi diri. Aku pernah baca quote ini di Instagram, jadi seorang ibu itu bukan berubah menjadi orang lain, melainkan "membuka" sisi lain dari diri sendiri. Tetap semangat yaa kita para ibu rumah tangga 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. huhu terharu ya mbak dengan lika-liku 'pencarian' kemauan dan kebahagiaan diri kita sendiri. Saya kira hanya remaja saja yang mencari jati diri nyatanya menjadi ibu rumah tangga pun harus tetap berdaya.

      Semangat juga untuk mbak. Terimakasih sudah mampir ya :)

      Hapus