Berdamai dengan Postpartum Depression



Beberapa hari lalu akun instagram parenting popular, @parentalkid mengadakan live bersama Caca Tengker yang membahas tentang Berdamai dengan Postpartum. Ah, rasanya seperti membuka luka lamaku tentang cerita pasca persalinan yang menguras emosi lahir dan batin, padahal akupun sudah memaafkan diriku dan orang-orang di sekitarku yang aku anggap kemarin 'melukai' perasaanku.

Depresi postpartum atau postpartum depression adalah depresi yang terjadi setelah melahirkan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak dan dialami oleh 10% ibu yang melahirkan.

Gejala Postpartum Depession


Menurut artikel Alodokter, gejala postpartum depression atau postnatal depression bisa terjadi pada awal kehamilan, beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir. Ketika mengalami postpartum depression, seseorang akan mengalami gejala-gejala berikut:

  • Merasa cepat lelah atau tidak bertenaga.
  • Mudah tersinggung dan marah.
  • Menangis terus-menerus.
  • Merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
  • Mengalami perubahan suasana hati yang drastis.
  • Kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya.
  • Tidak dapat tidur (insomnia) atau tidur terlalu lama.
  • Sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan.
  • Tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga.
  • Kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukainya.
  • Putus asa.
  • Berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya.
  • Munculnya pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri.


Cerita PPDku

Ketika aku melahirkan Anjani di tahun 2017 lalu, kondisiku masih dekat dengan orangtua. Bayangannya sih bisa lebih mudah untuk membantuku mengurus bayiku, apalagi aku dan suami masih akan menjadi orangtua baru jadi masih perlu bimbingan dari orangtua langsung, namun kenyataannya tak seindah harapannya beeeb..... 

Gejala stressku dimulai saat pulang dari rumah sakit. Oh iya, aku melahirkan secara normal, jadi aku bisa cepat pulang ke rumah. Alih-alih dapat mengurus anak dengan riang, tapi lelah yang aku dapat.


Drama ASI Tak Kunjung Keluar

Ketika di rumah sakit pasca melahirkan, aku berusaha untuk menyusui anakku sebisa mungkin. Aku kira aku sudah benar-benar menyusui Anjani, tapi ternyata enggak!! Aku masih ingat Anjani masih nangis terus tengah malam saat di rumah sakit, yang aku kira dia kedinginan lalu aku terus menyusui Anjani meski ia masih terus menerus menangis. Hari kedua di rumah pun aku baru sadar kalau Anjani belum buang air sama sekali! Dari situ aku sadar kalu ternyata dia sudah dua hari belum menyusu dan belum ada satupun yang masuk ke dalam perutnya!

Kalau yang tinggal dekat orangtua apalagi satu rumah dengan orangtua yang kolot dan konservatif pasti akan dengar "sana kasih susu botol aja, dulu kamu minum susu botol nggak apa-apa". Dari situ rasa stressku dimulai. Aku berusaha tak mendengarkan ocehan dari orangtuaku. Aku menganggap mereka itu hanya cari ribut sama aku dan mereka itu juga tipe orangtua yang nggak terbuka sama sekali dengan pengetahuan baru. Saat aku meminta tolong teman untuk menjelaskan kepada orangtua kalau ASI itu sangat baik, tapi orangtuaku malah marah-marah dan menganggap temanku itu anak kecil. Sungguh, ego dan idealismeku merasa terluka saat itu. Aku nggak mau ngasih susu botol sama sekali!! Aku juga merasa aku sudah menjadi orangtua dan aku berhak memilih keputusan sendiri untuk anak. Saking stressnya aku, ibuku sampai aku bentak :( Ya, namanya aja orang stress ya kan. Ibuku juga nggak sadar kalau aku ini depresi. Mana sadar, kalau dia anggap kalau ke psikiater itu orang gila !

Aku berusaha terus membersihkan payudaraku yang ternyata tersumbat oleh kotoran alias bolot. Padahal aku sudah rajin membersihkan payudaraku sebelum melahirkan tapi ya kok bolotnya masih terus muncul kan jengkel juga. Aku juga berusaha menghubungi bidan saat itu untuk melakukan terapi pemijatan oksitosin dan lulur untuk ibu pasca melahirkan. Dari bidan itu aku juga mendapat ilmu baru tentang pijat oksitosin dan makanan apa saja yang dapat merangsang keluarnya ASI. 

Suamiku juga ikut membantuku membeli pompa ASI bahkan aku sampai punya dua pompa ASI. Jangan ditanya suamiku stressnya kayak apa. Sama walau tidak ditunjukkan dengan tangisan, tapi aku pun merasakannya. Ya, ASIku keluar sangat sedikit awalnya. Aku juga menghubungi sahabatku dan konsultasi dengan dia. Sahabatku juga baru melahirkan beberapa bulan sebelum aku, jadi aku anggap dia mengerti kondisiku. Aku meminta tolong padanya untuk memberi ASInya pada anakku agar anakku sedikit tertolong dan anak sahabatku perempuan jadi hukum dalam agama Islam adalah sah. Oh iya kondisi Anjani juga masih lemas dan sudah seperti lelah menangis karena lapar :( Jangan tanya bagaimana reaksi orangtuaku. Tetap saja mereka mengoceh dan komentar karena aku tidak mau memberi susu botol. Kesel kan?

Aku janji bertemu dengan sahabatku di hari ke-7 setelah kontrol Anjani ke dokter. Sesampainya di sana aku langsung nangis sejadinya! Aku lelah, aku capek! Entah kenapa saat itu aku merasa anakku udah mau meninggal. Alhamdulillah, sahabatku mau menyusui anakku langsung. Aku sangat berterimakasih pada sahabatku yang mau menjadi ibu susu untuk Anjani, Masya Allah, aku akan selalu mengingat kebaikanmu :)

Sampai rumahpun aku sebenarnya masih nangis, aku juga nggak tahu kenapa aku nangis. Saat Anjani lapar tengah malam minta susu, akhirnya aku nyerah. Aku memberinya susu botol. Masuk waktu subuh pun aku melihat anakku dan aku membangunkannya dari tidur. Aku masih membayangkan kalau anakku itu sudah meninggal. Sungguh menyedihkan :(

Sampai situ aja? Enggak, belom!



Hal yang Membuat Kesal

Drama postpartum tak henti sampai situ aja. Ayahku seorang perokok, dan aku sebel dong kalau pulang dinas malam beliau langsung main gendong Anjani. Pikiranku udah ke mana-mana. Apalagi di FB beredar berita ada bayi yang mengidap sakit pernapasan saat tamu acara aqiqah banyak yang merokok di sekitar bayi. Aku takut hal itu terjadi pada anakku. Malam hari aku sampai telepon sahabatku yang lain di Surabaya, beliau lulusan S1 Psikologi. Aku kembali menangis. Beruntung beliau menenangkan hatiku.

Ada lagi hal yang membuat hati semakin terluka adalah ketika aku bercerita tentang BB Anjani yang naiknya masih irit banget padahal aku sudah berusaha makan makanan yang bergizi. Aku cerita sama teman dekat yang lulusan Gizi, aku anggap sih beliau sudah sangat paham dengan seluk beluk makanan apa yang bagus untuk dikonsumsi ibu menyusui. Bukan saran baik yang didapat, tapi malah kata-kata memojokkan yang aku dapat. Beliau bilang kalau ASIku nggak bergizi dan aku diet. Oyyyy, aku nggak diet!!! Mau makan sebanyak apapun badanku segini aja. Udahlah rasanya saat itu aku jadi ibu nggak berguna, udahlah kena oceh orangtua tiap hari, kurang ini dan itu, sempat ngasih susu botol, udah gitu ASIku nggak bergizi ! Ya, untuk apa aku hadir di dunia ini dan jadi ibu !!!

Aku juga merasa super sensitif saat pasca melahirkan. Aku merasa teman-temanku itu menyebalkan. Apalagi kalau ada yang rajin posting IG tapi captionnya suka nyindir, aku merasa itu tertuju padaku padahal bukan, hahaha. 

Caraku Berdamai dengan Postpartum

Belajar Memaafkan


Cukup lama aku berdamai dengan keadaan itu, keadaan di mana aku harus menerima bahwa mengalami depresi itu bukan salahku, bukan salah oranglain. Bahwa perasaan depresi itu sebagian dari perjalanan yang harus dilalui dan dari proses itulah yang pada akhirnya mendewasakan ibu dan sekaligus orangtua agar menjadi orangtua hebat dan bahagia untuk anak. Aku memaafkan ketidaktauan orangtuaku tentang ilmu terkini apalagi tentang parenting dan ilmu ASI. Aku juga mulai memaafkan temanku yang sempat bilang kalau ASIku nggak bergizi dan puncaknya saat aku akan pindahan, beliau menghubungiku duluan dan meminta maaf. Oke, akupun membuka hatiku untuk memaafkannya.

Mengucapkan Syukur dan Terimakasih


Setelah melewati lika-liku emosi naik turun seperti itu, akhirnya aku menyadari bahwa tanpa rasa itu aku tidak akan menjadi manusia "kuat". Tanpa kehadiran anakku, aku bahkan kami berdua tidak bisa menjadi orangtua pembelajar dan dewasa. Aku selalu mengucap syukur dan sering mengucap rasa terimakasih pada anakku Anjani bahwa aku dan papanya bangga memiliki dia. Dia mengajari kami banyak hal yang tak bisa dijabarkan satu persatu. Adanya lika-liku ini juga membuat kami saling mengerti dan memahami. Kami berdua tetap saling menjaga dan saling mendukung satu sama lain walau bagaimana pun kondisinya. 

Menjadi Orangtua Mindful



Cara lain yang disampaikan Caca Tengker dalam live instagram @parentalkid agar berdamai dengan postpartum adalah menjadi ibu yang mindful, artinya, hidup secara sadar saat ini yakni dengan tidak terjebak di masa lalu, atau bahkan terlalu worry sama masa depan dan sedikit menurunkan ekpektasi, misal santai saja bila hendak memberikan anak susu botol, nggak apa-apa yang penting anak tertolong lebih dulu. Selama sebelum melahirkan selain mencari ilmu pengetahuan tentang ASI dan segalanya tentang parenting anak, terlebih dulu mengetahui apa mau diri, apa hal yang suka dan nggak disuka dari diri. Dulu aku belum terlalu fokus ngeblog dan blogger memang belum sesanter sekarang jadi saat itu aku belum rajin untuk menulis, padahal manfaat menulis itu banyak sekali termasuk healing untuk diri sendiri. Bahagia untuk anak, terkadang kita sendiri lupa bahwa ada hal yang juga harus bahagia yaitu orangtuanya. Anak akan ikut bahagia bila orangtuanya bahagia lebih dulu.

Hal yang penting lagi adalah ketika seorang ibu yang baru melahirkan sangat butuh support dan kata-kata semangat. Jadi kalau dia mulai curhat masalah bayinya, ia hanya butuh didengarkan bukan untuk diberi nasihat apalagi yang memberi nasihat belum pernah merasakan melahirkan, awwww rasanya pingin jambakin rambutnya!! Kurang-kurangin juga menilai orang atau julid kok pendidikan tinggi bisa depresi, lulusan psikologi kok bisa depresi padahal tau teorinya apalagi bilang kalau kurang iman. Oyy, kita semua manusia biasa mau sarjana, mau enggak, mau lulusan psikologi, mau enggak !! Juga nih kalau bisa sih ya ngasih kado bukan cuma untuk anaknya aja tapi juga ibunya hahaha, eh bener loh. Akupun punya perasaan sedih saat aqiqah Anjani kenapa cuma Anjani aja yang dapat kado, loh ibunya mana mbok ya kasih kado juga kan ibunya yang ngeden, hahahah...

Bagi para ibu atau calon ibu yang mampir membaca postingan ini, tetap semangat ya. Kalian ibu dan calon ibu hebat! Bahagiakan dirimu dulu sebelum anakmu, itu akan kembali pada anakmu juga :) Banyakin mencintai diri sendiri dulu :)

Semangat !







Jember,
Juni 2020

6 komentar:

  1. subhanallah, semangat mamah anggi. aku juga ngalamin hal yang sama. bahkan selanjutnya nyambung waktu lahiran anak kedua. ini semacam, arena yang harus dilalui semua ibu ibu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. uh bener, sepertinya memang harus dialami semua ibu bahkan sekelas mommy yang punya nany pun juga melewati itu

      Hapus
  2. btw, template blog nya kok lucu banget siihhh??? sukaaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. templatenya di Goyaabii Template mbak hehehe

      Hapus
  3. Hallo mbk anggi, semangat terus ngurus dedek bayinya ya😁
    Saya pernah denger tentang postpartum depression ini tapi baru tahu penjelasannya sekarang. Bisa buat pelajaran buat saya yang mau nikah ini. Salut sama mbk anggi yang bisa melewati masalahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hay mbak, iya terimakasih. Alhamdulillah kalau mau nikah sudah tau tentang masalah-masalah seputar ibu jadi bisa lebih ada persiapan hehe, semangat terus untuk kamu :)

      Hapus