(Cerita Anjani) Ketika Anjani Didorong Temannya


Kejadian ini sebenarnya sudah terjadi beberapa minggu lalu, tapi masih aku pantau perkembangannya. Aku udah pernah menceritakan kejadian ini di IG story, tapi memang lebih enak cerita di blog sih hehe.

Aku tinggal di perumahan yang lumayan banyak anak mulai dari bayi, balita hingga remaja. Pagi itu saat bermain, ada anak tetangga, laki-laki yang usianya satu tahun lebih tua dari Anjani sekitar 4 tahun tiba-tiba bertingkah iseng ke Anjani. 

Hari Kesatu. Pertama, mendorong Anjani tapi dorongan ringan. Kedua, setelah mendorong Anjani, tiba-tiba anak itu, sebut aja Y, mengambil sepatu Anjani di teras rumah dan dibawa lari. Aku jengkel dong liatnya. Mulanya aku diamkan saja sambil mengobservasi karena Anjani ternyata bisa melawan anak itu. Saat setelah didorong ringan, Anjani segera menutup pagar rumah dan mau masuk rumah. Saat sepatu Anjani diambil, Anjani berlari mengejar si Y sambil teriak, "Jangan Kak...!!". Setelahnya sepatu Anjani dikembalikan itupun karena suami saya yang akhirnya turun tangan untuk menegur si Y.

Hari Kedua. Hmm, belum selesai nih kelakuan si Y. Pagi hari esoknya, si Y kembali iseng. Anjani sedang minum es krim dan si Y mau minta es krimnya Anjani. Anjani nggak mau dong. Tiba-tiba Anjani didorong keras sampai jatuh dan Anjani nangis! Uhhh sudah dongkol setengah mati aku! Beruntung saat itu, anak-anak lain yang berusia remaja, ada di sekitar Anjani dan Si Y ditegur langsung oleh anak-anak tersebut. "Kamu ya, kalo nakal nggak boleh main lagi. Kamu tuh pingin tak hiiih", asli aku jadi tertawa. Akhirnya Anjani aku selamatkan lebih dahulu. Setelah itu si Y aku tegur saat dia kembali berulah ke anak lain yang lebih kecil dari dia. "Lho kamu nggak boleh merebut punya teman. Kan temannya nggak mau toh kenapa masih kamu paksa". Eh si Y nangis setelah aku tegur hahahaha.

Beberapa minggu ini aku liat si Y agak berkurang keisengannya. Oh iya si Y ini anak pertama laki-laki dan dia baru punya adik baru. Setelah aku perhatikan, dia memang agak berani sama orangtuanya, neneknya pun dia pukul, apalagi ayahnya pernah 'tengkar' di jalan depan rumah karena si Y nggak mau mandi. Sepertinya sih orangtuanya sudah agak kewalahan menghadapi si Y ini. Saat si Y bermain di luar, ibunya juga nggak pernah kelihatan mungkin sibuk sama anak bayinya. Jadi yang suka negur kalau si Y ini salah ya anak-anak lain yang lebih besar atau kami ini sebagai orang dewasa. Aku nggak berani mencap atau melabeli kalau si Y ini anak nakal. Menurutku si Y ini hanya anak kurang perhatian dan sangat butuh perhatian maka ia mencari perhatian di luar rumahnya.

Apa yang aku lakukan saat Anjani terlihat didorong temannya :

Observasi

Aku observasi dulu nih siapa duluan yang memulai pertikaian, apakah Anjani atau dari temannya. Aku lihat juga reaksi Anjani, melawan, diam saja atau malah membalas mendorong.

Memisahkan Anjani dengan Temannya Sementara

Karena Anjani memang terlihat jelas didorong temannya, maka aku bawa masuk Anjani ke dalam rumah untuk sementara dan menenangkan dia. Saat dia menangis pun aku biarkan dia menangis untuk meluapkan emosinya.

Mengajari Anjani Bersikap Asertif

Dalam ilmu sosiologi, Asertif adalah sebuah kemampuan untuk dapat mempertahankan hak–hak pribadi tanpa bertindak agresif atau melecehkan. Jadi, asertif merupakan jalan tengah diantara sikap pasif dan agresif.

Malam harinya sebelum mau tidur, aku mengajak Anjani berbicara apa yang dia rasakan dan perlahan memberi tahunya untuk berani bilang 'Jangan' bila didorong, dipukul, mainan diambil. Contoh, "Anjani nggak mau didorong, Kak", "Anjani nggak mau dipukul, Kak", "Jangan ambil mainan Anjani, Kak". Begitu aku ulangi terus menerus untuk mengingatkannya setiap malam mau tidur dan sebelum Anjani bermain dengan teman-temannya. Aku juga mengingatkan Anjani untuk bilang "pinjam" saat ingin meminjam mainan temannya dan jangan saling berebut mainan.

Menegur Anak yang Bertindak Agresif Secara Langsung

Aku menegur si Y kalau memang tindakannya itu tidak dibenarkan. Memukul, mendorong, merebut mainan temannya tapi dirinya sendiri tidak mau direbut mainannya itu tidak dibenarkan. Biarlah si Y menangis saat aku nasihati. Beberapa minggu ini si Y sudah tidak bertindak kasar, setidaknya ke Anjani. Bahkan setiap pagi si Y masih mengajak Anjani bermain dan sering manggil Anjani dari luar pagar rumah.

Berikut aku mengambil dari artikel online, Kancil, tentang bagaimana upaya saat anak menjadi korban teman yang agresif :

  • Pahami  situasi  yang  terjadi. Jangan gampang menuduh si teman sebagai anak yang salah sementara anak adalah korban. Lakukan observasi secara objektif. Siapa tahu temannya memukul karena mainannya direbut atau permainannya diganggu. Jika kejadiannya di sekolah, minta bantuan pihak sekolah untuk melakukan mediasi kedua belah pihak. Hal yang jelas, konflik harus diatasi dengan bijak dan tenang, sehingga berujung pada pembelajaran bagi anak.
  • Jika terjadi di lingkungan rumah, upayakan untuk memisahkan terlebih dulu anak dan temannya yang sedang bertikai. Lalu, panggil keduanya dan saksi jika ada. Tanyakan urutan kejadian dan cari tahu penyebabnya. Cara lain, dekati si teman anak yang melakukan sikap agresif dan katakan memukul, menjambak, mencubit, tidak dibenarkan. Tekankan bila ia tidak menyukai sesuatu, katakan secara baik–baik. Jangan lupa, seusai didamaikan, minta kedua anak yang berkonflik untuk bersalaman.
  • Konflik yang berujung tindak agresif mungkin karena satu sama lain belum mengenal. Karena itu, perlu dicari waktu bermain bersama sehingga keduanya saling mengenal.
  • Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anak pada usia ini melakukan agresi lebih disebabkan faktor lingkungan. Dalam arti, harus dilihat dulu pola asuh dalam keluarga dan bukan berarti anak kita langsung dijauhkan, melainkan perilakunya dikoreksi sehingga menjadi lebih baik.
  • Biasakan bersikap asertif dalam kehidupan sehari–hari. Anak harus berani mengungkapkan ketidaknyamannya. Ia harus berani berkata, “bukan yang itu”,  “bukan begitu”, begitu juga saat mendapatkan sesuatu tidak sesuai pesanannya. Misal, anak memesan permen karet, tapi yang didapatkannya malah permen loli. Dalam kasus itu, anak harus berani mengungkapkan keinginan yang sebenarnya. Jika perlu, gunakan gambar atau buku cerita yang berkaitan dengan sikap asertif tersebut.
Apakah Anjani tidak pernah memukul atau mendorong teman? PERNAH, saat itu pertama kali Anjani bermain dengan temannya yang usianya lebih kecil. Pertama, yang aku lakukan adalah mengajarinya untuk meminta maaf kepada temannya yang menjadi korban. Kedua, malam hari saat mau tidur aku menasihatinya untuk tidak memukul atau mendorong temannya karena itu sakit dan bisa membuat temannya terluka. Ketiga, tindakan Anjani juga sebagai refleksiku dan suami sebagai orangtua yang barangkali memang pernah alpa secara tidak sengaja memukul Anjani ketika dia melakukan kesalahan.

Begitulah dunia anak ya moms. Susah-susah gampang dan memang penuh liku. It takes a village to rise a child. Memang butuh orang sekampung untuk mendidik anak.

Sumber : Kancilku

Jember, Juni 2020

3 komentar:

  1. Aduhh, memang tricky sekali ya kondisi kayak gini. Kebetulan aku belum pernah sih mengalami di mana anakku didorong atau diisengi secara fisik seperti ini. Pernahnya malah anakku yang ngedorong sepupu sepantarannya waktu mereka masih usia sekitar 2 tahunan. Aku kaget banget karena anakku nggak pernah kayak gitu sebelumnya. Sampai sekarang aku belum tau jawabannya kenapa. Apa dia bete karena malam itu lagi ngumpul keluarga besar suami, dia disuruh ini itu terus oleh kakek nenek plus tante-tantenya, entah foto lah, main lah, ini itu, jadinya mungkin dia begah dan kesal, terus dilampiaskan ke sepupunya itu. Anakku introvert btw, jadi suasana ramai itu nggak dia banget 😅

    Kalau main di playground, kadang-kadang dia suka diserobotin anak-anak yang jauh lebih besar untuk main perosotan, misalnya. Kalau lihat itu aku pasti tegur anak yang nyerobot, tolong lain kali antri, kamu lihat ada anak kecil di sini. Terus pernah juga ada anak-anak besar lagi pretend play, ehhh anakku yang nggak tau apa-apa dianggap "penjahat" sama mereka terus ceritanya mereka mau "ngusir" anakku dari wilayah main mereka. Sedih nggak sih. Aku langsung tegur lah mereka, karena anakku memang masih kecil dan nggak tau apa-apa. Dan label "penjahat" meski lagi becanda pun kok agak-agak gimana gitu hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw, lupa nambahin soal anakku dorong sepupunya. Aku nggak membenarkan tindakan anakku, aku langsung tegur di tempat karena gimana pun juga mendorong itu bukan sesuatu yang baik kan. Cuma sebagai orangtua baru yang melihat kejadian tersebut jujur aku clueless 😂

      Hapus
    2. aduh kalau sampai dilabelin kayak gitu emang kesel banget sih, jatuhnya malah jadi bully. Apalagi karakter anak mulai dibentuk dari usia 3 tahun. Kudu pintar-pintar orangtua 'ngebersihin' label itu, anak harus sering diajak komunikasi dan bikin dia tetep pede. Memang butuh banyak belajar lagi untuk jadi orangtua ya mbak, hwehehe semangat kita !

      Hapus