Salah Jurusan? Nyesel?


Salah jurusan saat kuliah? Yakin? Udah lulus 6 tahun lalu kok baru sambat sekarang, piye toh mbyaak.


Tulisan ini aku angkat karena dalam suasana turut berbahagia atas keberhasilan adik laki-laki bungsuku yang alhamdulillah banget tahun 2020 ini dia diterima di UNDIP jurusan Psikologi, jurusan yang sangat ia impikan dari dulu dan keluar dari Jember sekaligus mengenang masa kuliahku dulu. Ya, orangtuaku masih penganut patriarki garis keras. Anak perempuan nggak boleh kuliah jauh-jauh kalau anak laki boleh! Aku tiga bersaudara, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Jadi aku dan adik perempuanku cuma boleh kuliah di kampung halaman orangtua, Jember, dan 'ikut' mbah juga! Nggak bebas banget kan? Iya, anak perempuan itu nggak boleh jauh-jauh, pulangnya harus jam 9 malam, kalau bisa 'diketekin' terus hahahaha. Maka aku agak sedikit iri sama adik laki-lakiku yang rasanya bisa mendapatkan apa yang diimpikan, kuliahnya jauh juga, ngekos juga. Aku tuh pingin banget tau rasanya jadi anak kos.

IYA DEK AKU IRI, IYAAAA !!!

Berawal dari Kebimbangan

Aku anak IPS dan suka sastra. Tau kan ya kalau anak remaja itu gampang labil, gampang terpengaruh dan ikut-ikutan. Ikutlah aku tes mandiri UNDIP jurusan Psikologi, laaah nggak nyambung bambang!! Kwkwk lha kan aku cuma ikut-ikut temen gank aja mau ke mana. Tahun itu internet belum terlalu ada. Eh, aku udah punya sih Wifi di rumah tapi anak remaja yang kurang smart banget ya kan, jadi aku kurang cari informasi tentang jurusan kuliah, apalagi tentang bakat, hmmm boro-boro deh ke psikolog aja jaman itu masih tabu dan dianggap 'orang gila' padahal kan untuk psikotes. Orangtua juga ikut membantu memilihkan jurusan, bukan membantu dan mengarahkan sih tapi lebih tepatnya 'menyuruh'. Iya, aku disuruh kuliah di keguruan, dengan iming-iming latar belakang keluarga guru, mbah (ibu dari ibuku) guru SD dan adik-adik ibuku dosen semua. Selain itu imingan paling indah adalah bisa jadi PNS, ngajar honorer dulu terus diangkat jadi guru tetap. Begitu kira-kira cita-cita terbesar orangtuaku, anaknya jadi guru PNS. Ya sudahlah aku ikut aja. Anak nggak bisa melawan kan, katanya durhaka! Terus mereka juga nyuruh aku di Jember aja. Awalnya aku nggak mau, maka aku latah tes UNDIP. Gugur dong. Tidak patah arang, aku mendaftar ke UM Malang jurusan Bimbingan Konseling, dan gagal lagi. Iya, aku emang nggak tertarik dengan keguruan. Tapi doa ibuku lebih mustajab daripada doa-doaku hahahaha. Udahlah kelas 3 rajin puasa Senin-Kamis, sholat Dhuha, malah doa sendiri meleset! Akhirnya jalan terakhir aku mendaftar di UNEJ, namun aku lulus lewat jalur lokal mandiri pertama. Jurusan yang aku pilih adalah FKIP Bahasa Inggris dan FKIP Sejarah. Kenapa sejarah? Karena aku cari passing grade yang nggak terlalu tinggi agar kemungkinan bisa diterima, yang penting aku kuliah dulu, begitu pikirku saat itu. Ndilalah kok diterimanya di jurusan sejarahnya, adudududuh sakit kepalaku! Memang doa ibuku tu kenceng banget kayaknya biar aku di Jember aja. Udahlah akhirnya aku pasrah aja. Terdamparlah aku di FKIP Sejarah UNEJ. Kalau ditanya ngapain ambil jurusan sejarah, ya aku cuma bilang karena pilihan kedua aja muahahaha. Aku nggak kepikiran untuk ngambil sastra saat itu, ya kan karena didoktrin dengan bayang-bayang masa depan cerah dengan jadi guru dari orangtuaku, jadi aku sama sekali nggak punya bayangan output jurusan sastra akan jadi apa. Bego banget emang!

Tidak Maksimal Kuliah

Masuk di jurusan yang tidak aku kehendaki aku tidak bersemangat dan aku terasa berat menjalani hari-hari. Ditambah di kelas aku selalu mendapat teman yang nggak enak di hati, sekalinya mendapat teman yang sehati eeh ya gitu deh hahaha. Berangkat kuliah rasanya ogah dan males banget. Aku juga sempet depresi, aku uring-uringan sendiri. Ujungnya teman-teman ngejauhin aku karena aku marah-marah sendiri di kos teman. Iya, mungkin aku dianggap orang gila. Aku kayak pesakitanlah. Nilai tiap semester stagnan aja, dapet beasiswa juga nggak pernah lah orang IPK nggak pernah memuaskan. Berikut tanda-tanda salah jurusan :

 

  • Tidak ada motivasi saat berangkat kuliah. Iya. Aku pernah sengaja bolos karena alasan yang sepele, di luar panas!
  • Nilai semakin turun dan IPK semakin turun. Enggak juga sih, ada naiknya juga tapi biasa aja gitu.
  • Semua hal selain yang berkaitan dengan kuliah terasa menarik. Iya. Aku mulai ngeblog dan mengisi blogku dengan tulisan serta karyaku berupa sajak. Aku suka ke perpustakaan tapi bukan membaca tentang hal berhubungan dengan jurusanku melainkan ke buku sastra.
  • Terus menerus memikirkan untuk pindah jurusan. Pernah sih kepikiran tapi nggak sampai terlalu memikirkan juga karena ngeliat model orang tuaku yang agak diktator dan susah diajak 'rembug' ya aku memilih pasrah aja.
  • Selalu ada cara dan alasan untuk tidak masuk kuliah. Iya, seperti yang aku sebutkan di atas tadi, aku pernah bolos karena panas banget di luar jadi males mau keluar. Aku juga pernah diusir dosen karena aku pakai baju nggak sesuai standar mahasiswa keguruan.
  • Tidak punya jawaban setiap kali ditanya kenapa memilih jurusan ini. Betul sekali seperti yang sudah aku jabarkan di atas.

Dampak Salah Jurusan

Dampak dari salah jurusan sesuai pengalamanku adalah selain aku nggak maksimal kuliah, tentu berdampak pada nilai. Skill khusus lain pun kurang. Aku pernah ikut TOEFL lulus SMA tapi terhenti sampai situ saja, aku tidak mendalami lagi. Aku tidak pernah mengikuti kegiatan kampus. Boro-boro, jam 9 malam sudah harus di rumah kalau enggak gitu mbahku nelpon ke rumah orangtua. Oh iya aku tinggal dengan ibu dari bapak yang kurang mengerti pendidikan. Jadi kalau aku pulang terlalu malam dikira aku kelayapan, padahal jaman itu mau ngelayap ke mana toh mall di Jember belum ada saat itu dan cafe untuk sekedar nongkrong belum banyak. Mengapa tidak pindah untuk ngekos. Aku tidak nekat dan seberani itu. Orangtuaku selalu mendoktrin kalau melawan kata orangtua aku menjadi anak durhaka dan kalau nggak mendengarkan nanti akan ada musibah dan mereka tidak akan bertanggungjawab untuk itu. Didikan orangtuaku sangat keras tapi tidak mau mendengar keinginan anak terutama perempuan, kalau anak laki boleh mah bebas. Kelebihan yang aku punya hanyalah aku menyukai dunia digital, termasuk blog.

Di dunia kerja aku juga tidak terlalu maksimal. Pengalamanku sebatas menjadi guru bimbel sesekali menjadi guru pengganti di sekolahku dulu. Alih-alih mendapat pengalaman lalu akan diterima, tapi sekolahku menolakku mentah-mentah bahkan sampai dua kali, tidak tau alasan apa dan aku sangat benci itu semua. Alhamdulillah aku sekarang sudah tidak menetap di tanah kelahiranku. Beberapa hari lalu sekolah itu kembali bingung untuk mencari guru pengganti dan menanyakan aku apakah ada guru pengganti untuk mereka atau tidak tapi tidak aku gubris. Haha, ya salah sendiri sudah tau kurang guru tapi nolaknya kayak aku bener-bener seperti orang nggak berguna. Padahal aku punya planning untuk memajukan sekolahku, aku ingin membuat bulletin Sejarah, membuat komik dan media apapun yang mendekatkan murid pada dunia pendidikan digital dan kreatif yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Namun semua keinginan itu menjadi terpendam hingga aku tidak memiliki hasrat dan keinginan lagi untuk menjalankan profesi sebagaimana semestinya yaitu menjadi guru. Aku juga lebih senang bekerja di 'balik meja' dan aku tidak suka dikekang. Aku tidak senang bila ideku diatur oleh orang lain.

Apakah ini Penyesalan?

Lama aku merenungi hal ini apakah aku menyesal atau tidak. Mari berandai-andai. Andai aku kemarin bisa sedikit 'membantah' orangtuaku, keluar dari jurusan itu dan memilih untuk kos, mengejar impianku di jurusan sastra mungkin aku bisa lebih maksimal apalagi di dunia kerja. Ada sih setitik penyesalan, tapi untuk apa menyesal terlalu dalam. Ada hikmah di balik ini semua. Hikmahnya adalah aku membentuk diriku menjadi lebih tangguh dari diriku sebelumnya. Aku lebih mudah peka terhadap orang yang tidak akan memberi dampak positif untuk kehidupanku. Aku lebih senang menjadi istri serta ibu rumah tangga yang berpendidikan tinggi dan bermanfaat untuk keluarga. Saat ini aku menghabiskan waktu untuk terus belajar dan membaca buku. Aku meyakini bahwa itu semua kembali padaku terlebih untuk anakku. Berdiam diri di rumah, berkelana di blog, membaca cerita demi cerita dan pengalaman orang melalui blog serta platform lain adalah hal menyenangkan untukku sembari memupuk rasa syukurku. Aku seperti kembali ke duniaku. Aku juga mulai mempelajari tentang kepenulisan perlahan. Dengan pengalaman agak pahit seperti itu, aku mulai belajar untuk tidak terlalu keras mendidik anak dan aku akan lebih mendengarkan apa kata hati anakku karena anakku bukan boneka (boneka..boneka..). 

Caraku Memaafkan

Lama aku berdamai dengan perasaan yang bergelayut hampa seperti ini. Apalagi kejadian ini adalah pengalaman untuk seumur hidupku. Cukup lama aku menerima bahwa ini adalah jalan terbaik yang harus aku terima. Pertama, mulai memaafkan diri sendiri yang pada waktu itu tak memiliki ketegasan dan keberanian untuk berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak aku inginkan, Kedua, memaafkan kedua orangtuaku yang masih memiliki pikiran konservatif bahwa menjadi sarjana untuk kerja mencari uang banyak. Saya memaafkan pemikiran orangtua yang memiliki pandangan berbeda karena mereka belum pernah merasakan kuliah. Mungkin saja mereka memang ingin anaknya sukses berkarir dan bergaji besar, Ketiga, belajar menerima jalan takdir bahwa ini memang yang terbaik dari Tuhan karena Dia selalu memberikan jalan terbaik dan dibutuhkan untuk Umat-Nya bukan yang diinginkan. Ya taulah ya kalau manusia itu emang banyak maunya.
Saat ini aku bersyukur bisa menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya. Aku masih bisa menulis di blog dan membaca buku. Cita-citaku menjadi penulis masihlah ada. Aku juga masih mau melanjutkan jenjang lebih tinggi bila berkesempatan untuk mengenyam pendidikan lagi tapi bukan dari jurusan sebelumnya hehehe. Saat ini aku sedang tertarik di dunia psikologi selain dunia sastra dan sedang membaca berbagai literatur serta terkadang mengikuti kelas online bidang tersebut untuk sekedar menambah wawasanku.

Terimakasih sudah mampir ke blog dan membaca postinganku ini. Doakan aku selalu semangat dan kuat menjalani hari.

Jember, Juni 2020

3 komentar:

  1. monmaap nih langsung ngakak di bagian boneka boneka boneka T_____T anyway aku juga lagi ada di masa-masa proses memaafkan diri sendiri dan menerima apa yang sedang terjadi, thanks for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakak kata 'boneka' nya bernada yah mbak.. Iya mbak, memang butuh waktu untuk memaafkan diri sendiri. Semangat !!

      Hapus
  2. Waah sama kayak saya kak. Kalau saya dulunya pengen ke Pendidikan Bahasa Indonesia eeh malah terdampar ke Bahasa Inggris wkwkw

    BalasHapus