Lingkungan Toxic dan Teman Satu Frekuensi


edit by Canva

Menarik diri dari lingkungan toxic, aku tidak pernah sebahagia ini...


Aku termasuk salah satu orang yang bisa dibilang sangat sulit untuk menjalin pertemanan. Teman bagiku tidak cukup dengan kebutuhan hadir secara fisik namun juga secara emosi.  Aku juga tipe yang tidak gampang membuka diri pada satu orang dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Kalau tidak nyaman aku memilih diam saja atau tidak terlalu membaur daripada ada perasaan sangsi di hati. Susah memang. Apalagi pertemanan saja tidak cukup dikatakan sebagai sahabat. Bagiku sahabat adalah orang yang bertahan dalam jarak dan waktu, menerima diriku apa adanya, terutama sih saling menjaga rahasia.

Memiliki sedikit teman pernah membuatku sedikit frustasi dulu saat aku beranjak remaja di bangku SMP. Ya gimana ya, yang lain ngobrol sama genknya saat istirahat, sampai membuat jaket bersama sedangkan aku cuma nangis di pojokan, hwehe. Beranjak SMA lain lagi ceritanya. Aku lumayan punya teman dekat, teman lho ya. Aku mencoba membuka diri karena aku merasa kalau usia SMA adalah pencarian jati diri. Mulai tuh saling curhat, ke mana-mana bareng, duduknya pun berdekatan. Aku sudah tidak mengalami krisis kepercayaan diri lagi meskipun dalam pertemanan SMA tetap ada perbedaan ‘status sosial’, yang dianggap cupu ya ngumpulnya sama yang cupu, yang orang populer ngumpulnya sama orang populer. Kemudian aku baru menyadari bahwa pertemanan pun memang harus satu frekuensi, kalau nggak ya nggak nyambung, ibarat gelombang radio kalau nggak nyambung bunyi ‘kmereseeeekkkk’. Aku kebagian teman yang mana nih, yang dibilang cupu hihi.. Aku sebenarnya bukan tipe pemilih dalam berteman, aku terbuka dengan siapa saja namun langkah awalnya memang harus merasa ‘klik’ di hati. 

Kalau dihitung-hitung nih ya, aku sebenarnya punya teman walau nggak banyak. Aku lahir dan besar di komplek perumahan sebuah perusahaan dan bersekolah di yayasan binaan perusahaan tersebut. Dari TK sampai SMA tetap di yayasan tersebut. Jadi circle-nya ya tetap itu-itu aja dari TK sampai SMA. Circle ikut berubah saat penjurusan di SMA, IPA dan IPS. Aku pun punya beberapa teman dekat di sekolah, namun hanya terhitung dua orang saja yang menjadi sangat dekat sampai hari ini.

Beranjak dewasa membuatku semakin tersadar bahwa berteman menjalin silaturahmi tidak hanya hahahihi dengan obrolan seputar membicarakan orang saja alias ghibah, namun seharusnya dapat memberi dampak positif bagi diri sendiri bahkan lingkungan. Pergi dari lingkungan toxic sudah terpikirkan saat aku mengenyam bangku kuliah di salah satu universitas. Aku jarang pernah merasa cocok dengan teman-temanku di kampus bahkan ada salah seorang yang awalnya teman, entah apa yang merasukinya sampai menghina dan memfitnahku dengan kata-kata yang tidak pantas dan itu ia lakukan di bulan Ramadhan. Hari-hari berikutnya aku masih dalam pencarian jati diri dan juga berusaha agar diterima di sekitar teman-temanku. Akhirnya aku dekat dengan salah seorang sahabat walau akhirnya ia pun juga melakukan hal sama, alih-alih menjadi sahabat baikku tapi makian yang kudapat. Sulit rasanya menyembuhkan luka sebab pertemanan daripada luka cinta bagiku karena dalam pertemanan menyangkut kepercayaan abadi dan juga kepercayaan diri. Ah, ternyata memiliki teman dengan berbagai karakter untukku sangat memusingkan haha.

Cukup sampai di situ? Oh tentu tidak. Memasuki gerbang pernikahan pun aku kembali lagi ke perumahan tempat kelahiranku itu. Lingkungan yang seharusnya memberi kebebasan dari profesi apapun untuk tinggal menetap di sana. Lingkungan yang seharusnya memberi kebebasan bagi siapapun dalam berpakaian entah barang branded atau tidak. Nyatanya, bila yang berprofesi di luar karyawan perusahaan rentan dikucilkan, nyatanya melihat seseorang pun harus dari segi pakaian. Nggak branded? Bye aja. Nggak bermobil? Bye aja. 

Iya, mengerikan.

Tentang Teman Satu Frekuensi

Gambar : Pixabay

Beberapa waktu lalu aku chatting dengan teman sekolahku dulu yang tinggalnya bahkan satu RT denganku di perumahan itu. Kami berteman sejak kecil bahkan dari bayi, namun sekarang kami berjauhan karena dia mengikuti mutasi suaminya, sebut saja W. Dia si W curhat mengenai teman dekatnya (yang juga dulu satu sekolah denganku) yang banyak berubah apalagi obrolannya kalau bukan harta, tahta dan permata, haha jadi obrolannya semakin lama semakin tidak nyambung. Aku bilang saja, ah biarlah, dengarkan saja, mungkin teman dekatnya sedang menikmati hidupnya.

Tentunya setelah lama mengamati bahkan merasakan sendiri tentang kisah pertemanan yang mengalami perombakan sana sini, akhirnya aku menyepakati yang telah banyak dibicarakan orang  bahwa seleksi alam telah bekerja secara langsung mengeliminasi siapa saja orang terbaik untuk kita. Aku dapat dengan mudah mendeteksi dengan jeli tanpa basa-basi, sesiapa yang memiliki chemistry. Saat ini kedekatan yang secara emosional lebih meresap di hati ketimbang hanya sekedar ‘numpang lewat’ walaupun memiliki minat bahkan visi berbeda. Aku dan si W memiliki minat dan bakat berbeda. Si W suka masak dan sekarang membuka usaha cake di rumahnya, sedangkan aku suka menulis dan menjadi seorang blogger walau belum profesional. Kami berbeda namun herannya, saat aku merasa sedih dan ada sesuatu yang ‘aneh’ pada diriku, si W ini ikut seperti punya feeling nggak enak dan suka tiba-tiba menanyakan kabarku. Itulah karena adanya kedekatan emosional dan dengan adanya perbedaan malah semakin melengkapi, iya seperti jodoh, hmmm. Bukan karena teman kecil? Bukan juga. Teman kecil di kota kelahiranku bahkan satu RT pun banyak banget, tapi cuma si W yang paling ‘klik’ di antara yang lain.

Lalu bagaimana memulai pertemanan saat dewasa?

Kalau bagiku, bergabung dalam satu komunitas dalam minat yang sama dapat menjadi jalan untuk membangun pertemanan saat dewasa serta dapat dijadikan percakapan. Tentu, hal itu  juga butuh proses dan tidak terburu-buru. 

Ibarat dengan pencarian jodoh, proses itu memiliki polanya yang sama, perkenalan lalu pendekatan. Walau berbeda muara, jodoh berakhir dalam cinta dan pelaminan, namun pertemanan berakhir pada persahabatan yang mendalam.

Ciyeee...

Yang membuatku bahagia...

Gambar : Pixabay

Mutasi Suami Membuatku Bernafas Lega

Angin segar datang saat suami harus pindah kerja. Itu tandanya kami semua harus pindah dan aku memilih untuk tinggal di dekat rumah orangtua di Jawa Timur selama suami kerja di luar kota. Kami pun memboyong barang-barang kami dan kami pun segera mengurus berkas kependudukan kami untuk pindah domisili. Aku bersemangat sekali dengan migrasi kami kali ini.

Lingkungan Baru juga Membuatku Baru

Kini aku tinggal di lingkungan perumahan dengan individu yang heterogen, memiliki latar belakang profesi berbeda, sehingga lingkungan yang terbentuk pun lingkungan yang saling menghargai. Aku juga lebih bebas berekspresi dengan pakaian yang kukenakan, tak peduli harga mahal atau tidak. Aku juga lebih berekspresi dengan make up karena aku suka make up, tanpa perlu takut dengan omongan orang. Aku lebih bebas menjadi diri sendiri dan hal ini secara tidak langsung mempengaruhi kondisi psikis keluarga kami. Anakku tumbuh lebih sehat, bugar dan juga ikut bahagia. Aku mulai mencintai diriku sendiri dengan melakukan apa yang aku sukai seperti menulis, membaca buku hingga menonton drama Korea. Aku menjadi lebih fokus mengurus keluarga kecilku. Tidak ada lagi pandangan mata menyakitkan yang membuatku minder. Tidak ada lagi omongan orang yang bahkan mencibir gaji. Tidak ada lagi teman-teman yang fake dan yang isinya hanya mengeluh tentang keadaan padahal sudah berkecukupan. Aku bahagia.

Terus Berkarya

Aku terus berkarya, dan menulis di blog adalah salah satu hal produktif yang aku sukai dan aku lakukan. Aku juga ikut beberapa komunitas blog dan menulis di sana. Aku juga pernah mendapat apresiasi dari salah satu tulisanku yakni mendapat hadiah giveaway dan itu membuatku cukup bahagia. Aku akan terus berkarya dan terus belajar menulis dan memperbarui blogku.

Kemudian aku mengingat sebuah hadis yang cukup klasik :

Dalam sebuah hadis, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
 

Sebagai penutup aku hanya ingin menyampaikan bahwa teman satu frekuensi terkadang tidak harus menjadi atau dipaksa untuk satu visi. Teman dan sahabat adalah hal penerimaan dan rasa keikhlasan menerima segala kekurangan dan kelebihannya.

Bagaimana dengan harimu? Apakah sudah menemukan satu frekuensimu?

Jember, Juli 2020

4 komentar:

  1. Can relate mbak. Makin dewasa lingkaran pertemanan makin kecil soalnya lama2 makin ada seleksi alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener hihi makin sedikit rasanya makin sepi tapi ya udah :)

      Hapus
  2. "friends come and go" bisa jadi dulu cocok banget eh sekarang enggak, dan ya gapapa kalau emang harus "melepas" ikatan kedekatan yang dulu pernah ada (heleh bahasanya) wkwk, sering nih aku kayak gitu, pertamanya merasa yah kok berubah gini ya tapi terus lama-lama ya terbiasa karena memang people do change termasuk diri kita sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu kayak lagunya Kotak "lepaskanlah ikatanmu..." kwkwkk :)
      iya betul banget mbak, ya cari circle MyDay aja mbak, heheheh

      Hapus